Event

Pengalaman Ikut Pelatihan Jurnalistik di Kampung Sampireun Garut

Pengalaman Ikut Pelatihan Jurnalistik di Kampung Sampireun Garut – Pada hari itu, tepatnya di tanggal 18 Desember 2017, Saya mengikuti pelatihan jurnalistik bersama kominfo di Kampung Sampireun Garut. Dikarenakan berangkat bersama rombongan yang lainnya, yakni tidak hanya blogger saja, tapi juga ada dari kalangan adek-adek SMA. Maka, berangkat menggunakan bus dengan meeting point di Mesjid Al-Ukhuwah, Bandung.

Setelah rombongan hadir seluruhnya, akhirnya pada pukul 07.30 WIB kami meluncur ke Garut. Waktu itu Saya milih duduk di kursi depan di bus nya. Pemandangan terlihat begitu luas karena kaca depan bus itu luas banget hihihi

Tak terasa 3 jam berlalu, akhirnya bisa sampai juga di Kampung Sampireun Garut. Kemudian pembagian kamar pun dimulai, saat itu memang hanya 10 blogger saja yang berkesempatan untuk ikut pelatihan jurnalistik itu. Kami menginap di salah satu villa yang dimiliki kampung sampireun. Bagus sekali interior di dalamnya, nuansa woody classic khas rumah-rumah jaman dulu terlihat begitu jelas.

Baca: Hayu Urang NgeTIK Rame – Rame di Festival TIK 2015

Dan di dalam villa tersebut terdiri dari 2 kamar lengkap dengan masing-masing satu kamar mandi didalamnya. Lalu ruang televisi yang minimalis dengan tv LCD yang memukau. Pokoknya nyaman banget deh dipake nonton national geographic sebelum tidur hehehe

 

Dokumentasi milik Risky Nuraeni – Narsis sama temen-temen blogger di villa

 

Tak hanya itu, terdapat balcon yang menghadap langsung ke danau. Jadi, pas pagi-pagi ini kabut diluar bakalan terlihat jelas kalau dilihat dari balcon nya. Oh iya, selain itu ada juga perahu yang bisa digunakan dibawah balkonnya. Perahunya diikat agar tetap berada di tempatnya.

Demi keselamatan, ada juga pelampung yang bisa digunakan saat naik perahu. Memang sih keselamatan itu tetap yang utama. Mengingat kedalaman danau sedalam 3 meter jadi memang harus hati-hati.

Nah, bicara soal pelatihan jurnalistik, Saya mengikuti pelatihan jurnalistik dengan pemateri dari Bapak Ali Syahril selaku ketua aliansi jurnalis independen bandung. Beliau memaparkan tentang perbedaan antara menulis berita dan press release. Disini jadi semakin paham bahwa gaya penulisan antara tulisan berita untuk konsumsi publik dengan tulisan press release untuk rekan media memiliki perbedaan.

 

Dokumentasi milik pribadi

 

Kriteria penulisan berita

  • Disajikan untuk publik
  • Ada prinsip jurnalisme yang perlu dipatuhi seperti adanya cover both side
  • Objektif
  • Produk jadi
  • Diterbitkan oleh lembaga pers

Kriteria penulisan press release

  • Disajikan kepada jurnalis atau media massa
  • Sumber berasal dari satu pihak
  • Boleh subjektif
  • Bahan untuk penulisan berita
  • Diterbitkan oleh organisasi non-pers

Selain itu, Saya juga belajar tentang bagaimana menggali informasi lewat reportase, observasi, wawancara dan paper trail. Tak hanya itu, Saya juga belajar tentang bagaimana memilih judul yang baik dan menarik.

Setidaknya judul yang menarik harus bisa:

  • Menarik perhatian pembaca
  • Memberi keringanan pada typografi
  • Melukiskan atau menggambarkan “mood”
  • Menyimpulkan isi dari tulisan
  • Membantu menentukan nada surat kabar, dalam hal ini tanda baca sangat diperhatikan
  • Menjadi petunjuk pembaca mengenai isi halaman

Kemudian setelah menentukan judul yang diinginkan, masih ada proses lainnya yang harus dihadapi diantaranya proses editing. Dalam proses editing sendiri terdapat menjadi dua bagian yaitu editing isi dan editing redaksional.

 

Dokumentasi milik Risky Nuraeni

 

Editing isi berfungsi agar tulisan tetap menarik, sejalan dengan visi dan tidak menimbulkan kontroversi. Sedangkan proses editing redaksional meliputi tatanan bahasa di dalam tulisan tersebut yang melingkupi tanda baca, penggunaan kalimat aktif, diksi, huruf kapital dan gaya bahasa.

Selanjutnya, Saya juga mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari Bapak Maulana Yudirman selaku praktisi bidang media dan kehumasan. Beliau memaparkan secara detail terkait etika jurnalistik. Jadi memang seorang jurnalistik memiliki kode etik tersendiri yang harus dipatuhi.

Kode etik jurnalistik:

  • Wartawan tidak menyebarkan berita hoax, berita yang menyesatkan, memutarbalikkan fakta, berisi fitnah, sensasional, berbau pornografi dan yang bersifat sadis.
  • Jurnalis tidak menyembunyikan informasi penting dari masyarakat
  • Jurnalis menggunakan cara yang etis dalam memperoleh berita
  • Jurnalis segera meralat pemberitaan yang diketahui tidak akurat
  • Jurnalis memberikan hak narasumber

Dalam hal ini, Saya jadi tahu lebih detail tentang perkembangan industri pers di Indonesia. Mulai dari tahun 1900-1945 pers digunakan sebagai alat perjuangan kemerdekaan, lalu di tahun 1955-1965 sebagai alat propaganda partai karena untuk pertama kalinya pemilu diadakan pada tahun 1955. Selanjutnya di tahun 1970-1998, pers memiliki perananan kuat untuk mendominasi negara dan di tahun 1999- sekarang kita mengenal yang namanya era pers bebas.

Di era pers bebas ini, muncullah profesi baru yakni buzzer yang merupakan pengguna media sosial dengan jumlah pengikut 2000 atau lebih yang dibayar untuk mempromosikan pesan atau suatu produk. Biasanya buzzer sendiri berasal dari kalangan artis atau netizen yang memiliki akun media sosial yang berpengaruh.

Baca: Basic Journalist Training 2012

Materi jurnalistiknya sukses bikin Saya belajar banyak hal. Setelah mengikuti pelatihan jurnalistik, saya dan teman – teman mengikuti serangkaian aktivitas lainnya seperti hiburan malam yang didalamnya bagi-bagi doorprize. Alhamdulillah, Saya dapat blender hehehehe

 

Dokumentasi milik Risky Nuraeni – Pemenang doorprize

 

Keesokan harinya, tepat di tanggal 19 Desember. Saya dan teman – teman kembali mengikuti outbound. Kelompok dipecah hingga akhirnya Saya pun harus sekelompok dengan anak-anak SMA yang lucu-lucu. Mengingat masa-masa itu sudah berlalu sejak lama di hidup Saya hehehe Saya dulu lulus SMA tahun 2012, berarti sudah 5 tahun berlalu.

Outbound nya seru banget! Ada permainan beca motor gitu yang mengumpulkan orang-orang berdasarkan jumlah angka yang disebut, permainan menangkap belut, membawa ember diatas kepala, permainan balap sarung, permainan balap perahu dan permainan jalan di pipa.

Meski lelah, tapi rasa senengnya dapet banget. Terima kasih Kominfo untuk semua moment di acara pelatihan jurnalistik ini. Semoga ke depannya, acara ini dapat dilaksanakan kembali. Dan untuk semua materi jurnalistik yang didapat, sungguh benar-benar Saya syukuri karena ini menjadi pelajaran sekaligus pengalaman berharga bagi Saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.