Diary

Kisah Photo Session Bersama Payung di Kabupaten Sumedang

Dibalik setiap foto, tentu memiliki kisah uniknya masing – masing. Daaan.. pastinya, untuk mendapatkan ragam foto menarik pastinya ga didapat hanya dalam satu kali jepretan. Bahkah harus berulang kali dengan metode kesabaran. Hahahaha
Cerita bermula ketika saya memutuskan pulang ke Kabupaten Sumedang untuk menghabiskan waktu saya bersama orang terkasih *cieilah* kemudian keesokan harinya, saya minta diajak untuk menghabiskan waktu di tempat yang memiliki pesona keindahan alamnya. 
Maklum, seringkali kebanyakan liat asap knalpot jadinya ingin mencoba sesuatu yang berbeda. Meski yang didapat bukan liburan yang panjang seperti layaknya murid sekolahan. Tapi, masih bersyukur bisa kembali pulang ke rumah dan bertemu kembali dengan mama. 
“Mah, besok ajak teteh ke tempat yang bagus dong.” Pintaku berulang kali.
“Iya teh.” Jawabnya singkat.
Setelah itu, mama mulai mengotak atik handphonenya dan sesekali mengetikkan jari jemarinya seperti mengirimkan pesan singkat pada seseorang. Tak lama kemudian, mamah pun kembali menyapaku dengan sebuah kabar.
“Iya teh, besok ayo kita ke Cilupus.”
“Dimana itu?”
“Deket kok dari sini.” Jawab mama.
Setelah percakapan tersebut usai di pelupuk mata. Akhirnya aku hanya perlu menunggu saat – saat terbaik itu tiba. Lalu, keesokan harinya, aku bersama mama dan saudaraku ke Cilupus. Memang perjalanannya tidak terlalu jauh dan terbilang cukup singkat. Sesekali bertemu dengan para tetangga yang sedang asyik ngerujak. Saling bertegur sapa meski tidak mengenal secara personal satu sama lain. 
Tapi, ya itulah kondisi di sebuah pedesaan. Masih begitu akrab satu sama lain. Pernah aku tanya mama ketika ia menyapa seseorang. Aku tanya apakah mama mengenal orang itu atau tidak. Kemudian mamah membalas dengan senyuman dan berkata tidak. Itulah salah satu bagian yang aku sukai saat berada di desa.
Kembali lagi ke cerita tentang Cipulus. Setelah sampai disanaa… aku disuguhi dengan sebuah kenyataan bahwa sawahnya telah selesai dipanen. Itu artinya, aku tidak melihat banyak penampakkan yang hijau disana selain padi – padi yang telah menguning bersama kenyataan yang sebenarnya.
Ah, awalnya ngerasa gimana gitu. Sampe akhirnya aku melanjutkan perjalanan ke bukit yang sedikit lebih tinggi dari posisi pematang sawah karena tidak ingin menyerah dengan keadaan. Namun, aku biarkan mama tetap di tempatnya, mengobrol bersama para tetangga. 
Dan dari situlah akhirnya aku terinspirasi untuk mengambil gambar. Dan kebetulan, karena cuaca begitu panas. Mama yang tak ingin kulitnya terkena paparan sinar mentari pun membawa payung. Akhirnya ku pinjam buat property photography. Hahaha
Daaan inilah hasilnya… hasil jepretan yang diambil oleh anak berusia 9 tahun, Sultan.
Levitasi Photography
Let me fly into your heart with this umbrella ;;)
Levitasi Photography Sumedang
I’m gonna fly into your heart *tsaaaah*
Levitasi Photography Sumedang
Candid Foto tapi kok gayanya kayak yang ngajak berantem 🙁
Naaah, kan.. dibalik kisah yang tidak menyenangkan karena saya kesininya pas sawah lagi panen. Tentu ada hal seru yang bisa diciptakan dengan keceriaan. Intinya, segala sesuatu tentu terjadi bukan tanpa alasan. Maka dari itu, selalu bersyukur yuk!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.