Anakku Autis dan Ini Prosesku Belajar Menerima

Awalnya tuh semuanya kelihatan normal, bahkan lebih dari normal.

Di usia sekitar 2 tahun, anakku sudah mulai bisa ngomong. Bukan cuma “mama” atau “papa”, tapi sudah bisa menyebut hal-hal kecil yang bikin hati langsung meleleh, mana pake bahasa inggris pula. Bangga? Banget. Kayak, “wah anakku pintar banget ya.” Ada rasa proud yang gak bisa dijelaskan, apalagi sebagai orang tua.

Tapi pelan-pelan, ada yang berubah.

Kata-kata yang dulu sering keluar mulai berkurang. Responsnya jadi beda. Dipanggil kadang gak nengok. Fokusnya juga seperti buyar ke mana-mana. Awalnya denial. “Ah mungkin lagi fase saja.” Atau klasiknya, “Boys memang biasanya lebih lambat kok.”

Akhirnya aku mulai mikir, ini kayaknya speech delay deh.

Masuklah aku ke dunia terapi.

Hampir satu tahun.
Satu tahun yang penuh harapan tiap minggu.
Satu tahun yang setiap pulang terapi selalu bikin aku mikir, “Kayaknya tadi ada progress sedikit deh…” padahal deep down, aku juga tahu, something is not right.

Dan yang paling capek itu bukan terapinya.
Tapi harapanku.

Karena tiap berharap, lalu gak ada perubahan signifikan, rasanya seperti jatuh berkali-kali di tempat yang sama.

Akhirnya aku mulai cari jawaban ke sana-sini.
Pindah-pindah tempat. Konsultasi ke beberapa ahli. Sampai ke psikolog juga.

Dan jujur, di titik ini aku mulai lelah.
Karena bukan cuma soal anak, tapi juga harus menghadapi sistem yang kadang gak empatik.

Aku sempat merasa dikecewakan.
Seperti aku lagi cari pertolongan, tapi yang didapat malah bikin makin bingung.
No clarity. No direction. Just more questions.

Sampai akhirnya, di usia 4 tahun nya, jawabannya datang.

Autism.

Satu kata yang rasanya langsung bikin duniaku diam sebentar.

Aku gak langsung nangis, tapi rasanya kosong.
Seperti lagi loading, “ini artinya apa ya buat masa depan dia?”
Dan yang lebih jujur lagi, “ini salah aku bukan ya?”

Tapi hidup gak berhenti di situ.

Aku mulai lagi. Cari terapi lagi. Dengan harapan baru, walaupun sekarang campur dengan fear.

Dan di sinilah salah langkah berikutnya terjadi.

Aku masuk ke tempat terapi yang salah satu tahapan assessmentnya, ada tes IQ-nya.

Dan hasilnya… 67!

Angka itu seperti nusuk.
Bukan cuma karena angkanya, tapi karena label yang ikut menempel.

Di kepalaku langsung muncul perbandingan-perbandingan yang kejam.
“IQ segitu tuh rendah banget…”
Bahkan aku sempat kepikiran hal yang bikin hati makin hancur, “lebih rendah dari monyet…”

Sounds harsh? Iya. Tapi itu realita isi kepalaku waktu lagi di titik paling bawah.

Dan di titik itu, rasanya bukan cuma sedih.
Tapi juga kehilangan bayangan masa depan yang sempat aku bangun.

Aku sudah sempat menyusun semuanya di kepala.
Sekolahnya di mana, lingkungannya seperti apa, bahkan hal-hal kecil yang dulu terasa pasti.
Aku pikir aku sudah memilih jalan terbaik untuk dia.

Tapi ternyata, realitanya berbeda.

Semua yang sudah aku rencanakan pelan-pelan runtuh.
Bukan karena aku salah memilih, tapi karena jalannya memang berubah.

Tapi pelan-pelan, pemulihan itu mulai terjadi.

Aku gak langsung bangkit seperti di film.
Lebih seperti satu hari bisa menerima, besoknya jatuh lagi.
Healing-nya gak linear, lebih seperti roller coaster tanpa sabuk pengaman.

Aku mulai belajar satu hal penting.

Anakku bukan angka.
Bukan hasil tes.
Bukan label.

Dia tetap anak yang sama, yang dulu bikin aku bangga saat pertama kali bilang “mama”.

Dan mungkin, perjalanan ini bukan tentang “memperbaiki” dia.
Tapi tentang redefining expectations.

Tentang belajar merayakan hal-hal kecil:
hari ini dia lebih fokus 5 menit,
hari ini dia respons saat dipanggil,
hari ini dia peluk tanpa diminta.

Hal-hal yang dulu aku anggap biasa, sekarang jadi luar biasa.

Dan sebagai orang tua, aku juga lagi pulih.

Dari ekspektasi lama.
Dari rasa bersalah.
Dari luka karena sistem yang gak selalu ramah.

Pelan-pelan aku belajar:
I am not failing.
I am just walking a different path.

Dan mungkin, ini bukan jalan yang aku pilih,
tapi jalan ini yang membentuk aku jadi versi diri yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih dalam mencintai.

Kalau boleh jujur, ini bukan cerita yang sudah selesai.
Ini masih ongoing.

Tapi sekarang aku udah ga ngerasa sendirian.
Karena aku mulai mengerti, ini bukan akhir dari segalanya.

Ini cuma awal dari cerita yang berbeda.

Dan untuk orang tua di luar sana yang sedang menjalani hal yang sama, aku tahu rasanya gak mudah. Aku tahu capeknya seperti apa. Aku tahu rasanya hancur itu nyata.

Tapi kita tetap di sini. Kita tetap bertahan.

Pelan-pelan saja. Gak harus sempurna. Gak harus selalu kuat.

Because our child does not need a perfect parent. They just need us.

Dan itu sudah lebih dari cukup.

Trending Posts

Edit Template

© 2024 Created with by Widya Herma